loading...

Mitos dan Fakta Tentang Susu UHT



Mitos dan fakta tentang susu UHT diyakini menjadi topik hangat yang dibicarakan di masyarakat pada umumnya. Kenali mitos dan fakta tentang susu UHT dari dr. Melyarna Putri berikut ini.

Mitos dan fakta tentang susu UHT nampaknya sudah menjadi obrolan sehari-hari masyarakat Indonesia pada umumnya. Hal ini membuat masyarakat bingung, apakah hal tersebut hanya sekedar mitos, ataukah merupakan fakta berdasarkan pandangan medis?

Berikut mitos dan fakta tentang susu UHT yang patut Anda ketahui:

Mitos #1: Susu UHT menggunakan pengawet

Kabar bahwa susu UHT menggunakan pengawat hanyalah mitos. Mengapa susu UHT bisa tahan lama dibandingkan susu segar? UHT (Ultra High Temperature) memang merupakan salah satu cara yang bertujuan untuk mengawetkan. Namun, bukan artinya ditambahkan bahan pengawet. Melalui pemanasan pada suhu yang tinggi, maka diharapkan kuman-kuman yang ada di dalam susu akan mati, sehingga masa penggunaannya akan lebih panjang.

Mitos #2 : Susu UHT tidak boleh diminum oleh balita

Jawabannya adalah boleh. Namun, WHO (World Health Organization) menganjurkan susu UHT dikonsumsi oleh Anak setelah berusia 1 tahun dengan memperhatikan kesiapan saluran pencernaan anak dalam menerima produk susu. Hal ini murni merupakan pilihan setiap ibu terhadap anaknya, yang penting kebutuhan nutrisi Si Kecil dapat terpenuhi. Menurut rekomendasi WHO, bayi yang sudah tidak menerima ASI eksklusif, yaitu setelah usia 6 bulan, dianjurkan untuk mengonsumsi berbagai variasi sumber nutrisi yang dibutuhkan, apa sajakah itu?

Daging sapi, daging unggas, ikan, dan telur harus dikonsumsi secara rutin sebab sumber makanan tersebut banyak mengandung zat seperti zat besi dan zink. Ketika konsumsi daging, daging unggas, ikan dan telur tidak memenuhi kebutuhan, maka kebutuhan nutrien tubuh juga tidak akan tercukupi, kecuali menggunakan suplementasi.

Apabila konsumsi produk hewani dalam jumlah yang mencukupi, maka kebutuhan konsumsi produk susu hanya sekitar 200-400 mililiter per hari. Namun apabila tidak mencukupi, maka jumlah yang dianjurkan adalah 300-500 mililiter per hari. Produk susu yang dimaksud meliputi susu UHT, yoghurt, keju, dan produk susu lainnya

Apabila konsumsi produk hewani dan susu tidak mencukupi, maka diharuskan untuk mengonsumsi kacang-kacangan secara rutin untuk mencukupi kebutuhan protein.
Produk susu merupakan sumber kalsium yang tinggi. Apabila tidak bisa mengonsumsi produk susu, maka dapat digantikan dengan sumber makanan lain yang tinggi kalsium, seperti ikan teri, kedelai, wortel, dan sayuran hijau lainnya

Mitos #3: Susu UHT harus masuk kulkas

Susu UHT harus masuk kulkas ketika kemasannya sudah dibuka. Kemasan susu UHT melindunginya agar tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme yang dapat menyebabkan susu menjadi basi. Namun ketika kemasannya sudah dibuka, pagar pelindung terhadap kontaminasi mikroorganisme tersebut juga ikut terbuka. Sehingga susu UHT yang sudah dibuka kemasannya, apabila tidak habis dalam satu kali pemakaian, harus dimasukkan ke dalam lemari pendingin apabila Anda ingin mengonsumsinya kembali.

Ketika susu UHT belum dibuka kemasannya, maka tidak masalah apabila Anda ingin menyimpannya di lemari dengan suhu ruangan biasa. Ketika Anda menyimpan susu UHT di dalam suhu ruangan, susu UHT tersebut biasanya dapat bertahan sekitar 10 bulan. Namun demikian, Anda juga harus memperhatikan tanggal kadaluarsa susu UHT tersebut.

Mitos #4 : Susu UHT mengandung kasein, zat pemicu kanker

Susu terdiri atas 2 jenis protein, yakni protein kasein dan protein whey. Protein kasein yang ada pada susu adalah sekitar 80%, sedangkan protein whey hanya sekitar 20%. Karenanya, banyak pendapat yang mengatakan bahwa protein susu dapat memicu terjadinya kanker prostat. Bagaimana kenyataannya?

Para ahli sepakat bahwa ada hubungan antara pola konsumsi makanan dan kanker. Namun apakah susu secara langsung dapat menyebabkan terjadinya kanker, hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

2 penelitian mengenai kaitan konsumsi susu dengan perkembangan kanker prostat memiliki hasil yang bertolak belakang. Salah satu penelitian mengatakan tidak berpengaruh, sedangkan penelitian lainnya mengatakan sebaliknya.

Namun demikian, penelitian lain justru menyebutkan bahwa konsumsi produk tinggi kalsium, dimana salah satu sumbernya adalah susu, dikatakan dapat menurunkan risiko terjadinya kanker saluran cerna. Namun, menurut Cancer Research UK, kebenaran mengenai hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Untuk menghindari kemungkinan kanker di masa mendatang, Anda dapat menerapkan pola makan seimbang dengan kecukupan serat setidaknya 5 porsi buah dan sayur setiap hari, menghindari konsumsi alkohol, dan merokok.


Tekan 2 kali (X) tuk menutup
Dukung kami dengan ngelike fanspagenya x