loading...

Hanya Saat Beginilah,Bohong Diperbolehkan Antara Suami dan Istri...



Hambasurga - "Ketahuilah wahai Istriku, aku tak pernah memakan
masakan yang lebih tidak enak daripada yang kau masak ini!"

"Saya heran... kamu memakai baju warna apapun tetap saja jelek!"
"Karung berisi beras masih lebih bagus daripada badanmu!"

Apa jadinya kalau suami mengatakan 'kejujuran' yang menyakitkan seperti itu? Tentu saja perasaan istri akan terluka dan tercabik-cabik harga dirinya. Bahkan sangat mungkin istri akan membenci suaminya, dan ogah melayani kebutuhan suaminya, sekalipun apa yang dikatakan sang suami adalah kejujuran.

Oleh sebab itu kita perlu mengetahui bahwa dalam rumah tangga ada perkataan bohong atau dusta yang diperbolehkan. Kaidah yang dipakai dalam hal ini yaitu hadits berikut:

Ummu Kultsum berkata, "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shalallaahu 'alaihi wassalam memberi keringanan tentang suatu pembicaraan orang-orang dusta, kecuali dalam tiga hal. Yakni, peperangan, memperbaiki hubungan antarsesama, serta pembicaraan seorang suami kepada istrinya dan seorang istri kepada suaminya." (HR. Muslim)

Para suami hendaknya menjaga perasaan istri dari perkataan jujur yang berpotensi menyakiti perasaan istrinya, begitu pula istri amat perlu menjaga lisan agar suami tak tersinggung dengan perkataan jujur yang mungkin saja dapat membuatnya merasa direndahkan.

Berikut ini beberapa hal 'bohong' yang boleh dilakukan oleh pasutri:

1. Bohong mengenai cinta masa lalu yang memang sudah bertaubat dan menjauh dari hal tersebut.

Syekh Yusuf
Qaradhawi menegaskan alangkah tidak bijaksananya seorang istri menceritakan terus terang kepada suami, misalnya kisah cintanya pada masa lalu yang telah dihapuskan dan ditutup aibnya. Bahkan, jika seorang suami memaksa istri untuk bersumpah guna menceritakan masa lalunya, Syekh Qaradhawi memandang paksaan suami tersebut tidak bijak. Pertama, karena mengungkit masa lalu termasuk tindakan yang sia-sia. Kedua sumpah tersebut tidak akan menyelesaikan masalah rumah tangga itu.

2. Bohong yang tidak menggugurkan kewajiban masing-masing suami istri, juga tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Batasan berbohong dalam rumah tangga, tentu saja sebatas bohong yang tidak menggugurkan kewajiban pihak masing-masing. 

"Mereka (para ulama) sepakat bahwa maksud dari bohong (yang dibolehkan) pada pasangan suami-istri ialah dalam hal-hal yang tidak menyebabkan gugurnya hak si suami maupun si istri, atau tidak menyebabkan salah satu pihak mengambil hak yang bukan miliknya." [Fathul Baari, jilid 5 halaman 300].

3. Berbohong demi terciptanya rasa kasih sayang antara suami istri.

Syeikh Ibnu al-Utsaimin rahimahullah juga berkata dalam kitab Syarh Riyaadh as-Shaalihiin [6/184]: "Termasuk maslahat juga yaitu seorang suami berbohong kepada istrinya atau seorang istri berbohong kepada suaminya dalam hal yang bisa menciptakan kecintaan dan kasih sayang. Misalnya si suami berkata kepadanya: "Bagiku engkau sangatlah berharga, engkau paling aku cintai dari seluruh wanita,..." dan kata-kata lainnya. Meskipun dia bohong, tetapi itu untuk memasukkan kecintaan kepadanya. Dan maslahat juga menuntut hal tersebut."

4. Berbohong yang tidak menimbulkan mudharat pada orang lain maupun pada diri pasutri tersebut.

Para ulama anggota al-Lajnah ad-Daaimah juga ditanya tentang seorang wanita yang terkadang harus berbohong kepada suaminya. Maka mereka pun menjawab: "Berdusta kepadanya tidak apa-apa jika memang itu ada maslahatnya, serta itu tidak memudaratkan siapapun. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membolehkan pasangan suami-istri untuk berbohong kepada pasangannya dalam hal-hal yang berkaitan dengan maslahat keduanya, dan selama itu tidak memudaratkan selain mereka. Kepada Allah kita meminta taufiq." [Fataawa al-Lajnah ad-Daaimah, jilid 19 halaman 170].

Semoga menjadi jelas bagi kita apa saja bohong yang diperbolehkan dan bohong yang terlarang di antara pasutri.

(Sumber: Ummi-online.com)